5 Rujukan dalam Tafsir Alquran

wp-1514575426655..jpg5 Rujukan dalam Tafsir Alquran

Al-Utsaimin menjelaskan bahwa tafsir Alquran merujuk pada sumber-sumber berikut.

  1. Kalamullah (Alquran ditafsirkan dengan Alquran), maksudnya ditafsirkan dengan ayat lain, karena Allah SWT adalah Yang menurunkan Alquran sehingga lebih mengetahui apa yang dikehendaki ayat. Contoh:
    1. firman Allah SWT

      أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

      Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

      —QS Yunus [10]: 62

      Lafal “أَوْلِيَاءَ اللَّهِ” (awliyâ` Allah, wali-wali Allah) ditafsirkan dengan firman-Nya pada ayat berikutnya:

      الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

      (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

      —QS Yunus [10]: 63
    2. firman Allah SWT

      وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

      tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

      —QS At-Tariq [86]: 2

      Lafal “الطارق” (ath-thâriq, yang datang pada malam hari) ditafsirkan dengan firman-Nya pada ayat berikutnya:

      النَّجْمُ الثَّاقِبُ

      (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,

      —QS At-Tariq [86]: 3
    3. firman Allah SWT

      وَالأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

      Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya

      —QS An-Nazi’at [79]: 30

      Lafal “دَحَاهَا” (daḥâhâ, dihamparkan-Nya) ditafsirkan dengan firman-Nya pada ayat berikutnya:

      أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا
      وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

      Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
      Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,

      —QS An-Nazi’at [79]: 30
  2. Perkataan Rasulullah  (maksudnya Alquran ditafsirkan dengan as-sunnah), karena Rasulullah  adalah pembawa kabar dari Allah SWT sehingga Rasulullah  adalah manusia yang paling mengetahui maksud Allah pada firman-Nya. Contoh:

    لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.

    —QS Yunus [10]: 26

    Nabi  menafsirkan lafal “زِيَادَةٌ” (ziyâdah, tambahannya) dengan ‘melihat wajah Allah’, berdasarkan riwayat dari Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim tanpa adanya kesamaran dari Abu Musa[6] dan Ubay bin Ka’ab

  3. Perkataan sahabat RA, terutama ulama mereka dan yang memiliki perhatian terhadap tafsir, karena Alquran turun dengan bahasa mereka, di masa mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling jujur dalam mencari kebenaran, lebih selamat dari hawa nafsu, dan lebih bersih dari perselisihan yang memecah belah mereka. Contoh:

    وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ

    Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan

    —QS An-Nisa’ [4]: 43

    Telah sahih kabar dari Ibnu Abbas RA bahwa dia menafsirkan ‘menyentuh perempuan’ dengan ‘hubungan badan’.

  4. Perkataan tabi’in yang perhatian untuk mengambil tafsir dari para sahabat[8], karena mereka adalah generasi terbaik setelah sahabat, lebih selamat dari hawa nafsu daripada generasi setelahnya, dan bahasa Arab belum banyak berubah di masa mereka. Oleh karena itu, mereka lebih dekat kepada kebenaran dalam menafsirkan Alquran daripada generasi setelahnya.Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al Fatawa, “Apabila terdapat konsensus di antara para tabi’in, maka argumen mereka tidak dapat diragukan. Jika terdapat perbedaan, maka argumen-argumen mereka tidak bisa dipertentangkan dan tidak pula menentang argumen orang dari masa setelah mereka. Perbedaan itu dikembalikan kepada bahasa Alquran, sunnah, atau keumuman bahasa Arab atau perkataan sahabat atas hal itu.”
  5. Konsekuensi makna syar’i atau bahasa berdasarkan konteks terhadap suatu kalimat berdasarkan firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,[9] (QS An-Nisa’ [4]: 105), “Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya),” (QS Az-Zukhruf [43]: 3) dan “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, suapay ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS Ibrahim [14]: 4)

    Jika makna syar’i bertentangan dengan makna bahasa, maka diambil konsekuensi makna syar’i, kecuali terdapat dalil yang menguatkan makna bahasa sehingga diambil konsekuensi makna bahasa. Hal itu dikarenakan Alquran turun untuk menjelaskan syariat, bukan untuk menjelaskan bahasa.

    Contoh terjadinya perselisihan makna bahasa dan syar’i, kemudian diambil makna syar’i, firman Allah SWT tentang orang-orang munafik:

    وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَداً

    Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka,

    —QS At-Taubah [9]: 84

    (Dalam ayat terdapat kata yang bermakna as-shalah, kemudian diterjemahkan ‘menyembahyangkan.’) Salat secara bahasa artinya doa, sedangkan secara syar’i dalam ayat ini adalah berdiri di samping jenazah untuk mendoakannya dengan cara-cara khusus. Dengan demikian makna syar’i didahulukan, karena memang hal itulah yang dimaksud oleh Yang berbicara dan yang dipahami oleh yang mendengar. Adapun larangan berdoa untuk mereka secara mutlak diambil dari dalil lain.

    Contoh terjadinya perselisihan makna bahasa dan syar’i, kemudian diambil makna bahasa dengan dukungan dalil, firman Allah SWT

    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

    Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.

    —QS At-Taubah [9]: 103

    (Dalam ayat terdapat kata yang bermakna as-shalah, kemudian diterjemahkan ‘mendoalah.’) Maksud salat di sini adalah doa berdasarkan dalil HR Muslim[10] dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa Nabi  pernah ketika menerima zakat orang-orang, berdoa (bersalawat) untuk mereka. Kemudian datang Abi Aufa menyerahkan zakatnya, kemudian Nabi  berdoa, “Allâhumma shalli ‘alâ âli Abî Awfa (Ya Allah, semoga salawat tercurahkan kepada keluarga Abi Aufa).”

wp-1514574051328..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s