Tafsir Quran Al-Muyassar dan  Tafsir Al-Fatihah 


Tafsir Quran Al-Muyassar dan  Tafsir Al-Fatihah 

Kitab Tafsir Al-Muyassar 

  • Kitab At Tafsir al Muyassar ini adalah sebuah tafsir terbitan dari Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif -Lembaga yang berkedudukan di Madinah al-Munawwarah- yang telah mencetak jutaan Mushhaf al-Qur`an beserta terjemahnya ke dalam berbagai bahasa dunia untuk disebarkan ke seluruh dunia. Kitab Tafsir ini disusun oleh  kumpulan Pakar Tafsir di bawah bimbingan Syaikh Sholih bin Abdul ‘Aziz Aalu Asy Syaikh. Terkhusus Kitab at-Tafsir al-Muyassar ini, sudah banyak pujian dan sanjungan terhadap buku ini, baik dari kalangan thullab ‘ilm (penuntut ilmu syar’i) maupun dari kalangan para ahli tafsir.
  • Inilah salah satu tafsir kontenporer, Tafsitr Al Quran Al Muyassar yang hadir pada abad 14 Hijriah memperbanyak khazanah pustaka tafsir Al Quran yang tetap merujuk pada tafsir yang difahami generasi Salaf, sebuah tafsir Al Quran yang ringkas, mudah difahami orang awam sekalipun.
  • أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطـٰـنِ الرَّجِيمِ
  • شرع الله تعالى لكل قارئ للقران العظيم، أن يستعيذ بالله من الشّيطان الرجيم، قال سبحانه: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل – الآية ٩٨]
  • Allah ta’ala men-syari’at-kan bagi setiap pembaca Al-Qur’an Al-‘Azhim agar mereka memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Allah berfiman dalam surat An-Nahl ayat 98 (artinya) “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk*.“.
  • ذلك لأنّ القران الكريم هداية للناس و شفاء لما في الصدور، والشيطان سبب الشرور والضلالات، فأمر الله سبحانه كل قارئ للقران أن يتحصّن به سبحانه من الشيطان الرجيم، ووساوسه، وحزبه.
  • Hal itu karena Al-Qur’an Al-Karim adalah berisi hidayah (petunjuk) bagi ummat manusia*, dan obat penyembuh bagi (qalbu/hati) yang ada di dalam dada, sedangkan setan adalah penyebab berbagai keburukan dan kesesatan. Maka Allah yang Mahasuci memerintahkan  setiap orang yang akan membaca Al-Qur’an agar mereka membentengi diri dengan Allah yang Mahasuci dari setan yang terkutuk, gangguan was-wasnya dan golongan-golongan setan.
  • وأجمع العلماءعلى أن الاستعاذة ليست من القران الكريم؛ ولهذا لم تكتب في المصاحف.
  • Para ulama telah bersepakat bahwasanya bacaan isti’adzah tidak termasuk dari Al-Qur’an Al-Karim; Karena inilah ia tidak ditulis pada mushaf-mushaf.
  • ومعنى (أعوذ بالله) : أستجير، و أتحصّن بالله وحده.
  • Makna (أعوذ بالله) adalah aku meminta perlindungan dan aku membentengi diri dengan Allah saja.
  • ومعنى (من الشيطان) أي: من كل عات متمرّد من الجنّ و الإنس، يصرفني عن طاعة ربّي، وتلاوة كتابه.
  • Makna (من الشيطان) adalah dari setiap penyeleweng yang sangat membangkang dari kalangan jin dan manusia, yang akan memalingkan aku dari menta’ati Rabb-ku dan dari membaca kitabNya.
  • ومعنى (الرجيم) أي: المطرود من رحمة الله
  • Makna adalah : yang diusir dari rahmat Allah.


Faidah :

  • [Kata Ar-Rajiim adalah Isim Fa’il yang Memiliki Makna Isim Maf’uul. Maka artinya adalah yang dilemparkan/dijauhkan dari rahmat Allah, atau yang dilempari dengan bintang oleh para Malaikat.]
  • [Al-Qur’an Al-Karim adalah petunjuk bagi manusia, walaupun mereka yang masih kafir. Yaitu petunjuk bagi mereka ke jalan dan agama yang lurus.]
  • [Jin yang dibelenggu pada bulan Ramadhan hanya jin-jin yang sangat membangkang.]
  • بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ (1)
  • سورة الفاتحة. سميت هذه السورة بالفاتحة; لأنه يفتتح بها القرآن العظيم,

Surat Al-Fatihah. Surat ini dinamakan dengan “Al-Fatihah” karena Al-Qur’an Al-‘Azhiim dibuka/dimulai dengannya.

  • وتسمى المثاني; لأنها تقرأ في كل ركعة, ولها أسماء أخر.
  • Dan surat ini dinamakan juga dengan Al-Matsani, karena ia senantiasa dibaca pada setiap raka’at shalat. Dan surat ini juga memiliki beberapa nama yang lain.
  • أبتدئ قراءة القرآن باسم الله مستعينا به,
  • Saya memulai pembacaan Al-Qur’an dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk permintaan tolong kepadaNya.
  • (اللهِ) علم على الرب -تبارك وتعالى- المعبود بحق دون سواه, وهو أخص أسماء الله تعالى, ولا يسمى به غيره سبحانه.
  • Lafzhul Jalalah (اللهِ) adalah nama yang menunjukkan atas Ar-Rab -yang Mahasuci lagi Mahatinggi-, satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tanpa selainNya, dan nama ini adalah nama yang paling khusus diantara nama-nama Allah ta’ala, dan tidak ada yang boleh dinamai dengan nama ini selain dia semata yang Mahasuci.
  • (الرَّحْمَنِ) ذي الرحمة العامة الذي وسعت رحمته جميع الخلق,
  • (الرَّحْمَنِ) yaitu pemilik rahmat yang luas, yang kasih-sayangnya itu mencakup seluruh makhlukNya.
  • (الرَّحِيمِ) بالمؤمنين, وهما اسمان من أسمائه تعالى، يتضمنان إثبات صفة الرحمة لله تعالى كما يليق بجلاله.
  • (الرَّحِيمِ) yaitu yang menyayangi orang-orang yang beriman. Kedua nama ini adalah diantara nama-nama Allah ta’ala. Kedua nama yang disebutkan dalam ayat ini mengandung penetapan sifat rahmat (kasih-sayang) bagi Allah ta’ala sesuai dengan keagunganNya .

Faidah

  • [Para ulama berselisih tentang lafazh (اللهِ) apakah merupakan kata turunan dari kata lain, ataukah ia merupakan lafazh yang bersifat tauqifi dari Allah. Tapi, yang lebih benar -insya Allah- bahwa lafazh ini bersal dari kata (الإلٰه) ]
  • [Penetapan sifat-sifat seperti ini sangat penting, karena ada golongan dalam ummat Islam yang menafikan adanya sifat rahmat (kasih-sayang) bagi Allah. Mereka beranggapan bahwa penetapan sifat tersebut sama saja menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal ayat-ayat dan hadits-hadits banyak yang menetapkan sifat ini bagi Allah.]
  • [Jika mau difikirkan sejenak, sebenarnya mereka yang menolak penetapan sifat-sifat bagi Allah dengan alasan tasybih (penyerupaan) atau tajsim (memfisikkan), mereka itu sendirilah yang melakukan penyerupaan (tasybih) dan memfisikkan (tajsim) antara sifat Allah dengan makhlukNya. Karena kita yang menetapkan hal tersebut, hanyalah menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah sesuai apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an atau yang dijelaskan Rasulullah dalam hadits yang shahih, tanpa mempermaslahkannya.]
  • [Metode yang benar dalam memahami ayat-ayat maupun hadits-hadits tentang sifat Allah adalah kita menetapkan apa yang ditetapkan dalam dalil tersebut tanpa menyerupakannya dengan makhluk.]

Tafsir Muyassar

  • Al-Qur`an adalah Firman Allah yang merupakan titahNya yang mulia kepada hamba-hambaNya, agar mereka yang mengamalkannya dapat meraih kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Allah  berfirman, yang artinya, “Sungguh telah Kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat (sebab-sebab) kemuliaan bagi kalian, maka apakah kalian tiada memahaminya?” (Al-Anbiya`: 10). Maka tidak ada cara terbaik untuk mengamalkannya kecuali dengan memahaminya secara benar berdasarkan kaidah-kaidah tafsir yang disepa-kati para ulama kaum Muslimin. Tafsir Muyassar yang kami terbitkan ini merupakan salah satu tafsir yang paling simpel, mudah, dan jelas. 
  • Di antara keistimewaan Tafsir Muyassar ini:
  1. Menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih dalam masalah akidah.
  2. Mengedepankan tafsir berdasarkan riwayat ma`tsur yang shahih.
  3. Menggunakan kalimat-kalimat yang ringkas dan mudah disertai dengan menjelaskan makna-makna dari kata-kata yang asing di tengah-tengah penafsiran.
  4. Hanya menafsirkan sesuai dengan ayat bersangkutan, dan menghindari penambahan yang ada di ayat lain, agar ditafsirkan di tempatnya masing-masing.
  5. Penafsiran dilakukan sesuai dengan riwayat qira`ah Hafsh dari Ashim, dan ini adalah yang dianut di Indonesia dan sebagian besar negeri-negeri Muslim.
  • Tafsir ini disusun oleh satu tim ahli tafsir yang telah diseleksi para ulama yang berwenang di Mujamma’ Raja Fahd untuk penerbitan al-Qur`an, dan juga di bawah pengawasan dan arahan seorang ulama yang mumpuni, Syaikh Dr. Shalih Alu asy-Syaikh yang menjadi pembimbing utama di lembaga tersebut. Bersama itu, penyusunan tafsir ini telah melalui berbagai proses dan langkah yang sangat hati-hati serta pengkajian yang mendalam. Silahkan Anda cermati terjemah al-Qur`an dan tafsir ini; karena kami berharap ini akan menjadi rujukan primer bagi kalangan yang luas. Semoga Allah memberikan taufik bagi kita semua.

Tafsir Al Qur’an terbaik ?

  • Tafsir Al Quran yang terbaik di Indonesia itu relatif. Bagi Muslim satu dengan lainnya bisa saja berbeda pilihan. Yang penting adalah bagaimana umat Islam Di Indonesia bisa Baca Al Qur’an dan memahami Maknanya.  
  • Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
  • لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ
  • “Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah kitab ( Al Qur’an ) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu.  Maka apakah kamu tidak mengerti ? ” [ Q.S. Al Anbiyaa’ : 10 ]

Tafsir Al Muyassar ini merupakan salah satu tafsir yang paling simpel, mudah, jelas, dan harganya terjangkau oleh semua kalangan.

Keistimewaan Tafsir Al Muyassar :

  • Menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan manhaj As Salafush Shalih dalam masalah akidah.
  • Mengedepankan tafsir berdasarkan riwayat ma’tsur yang shahih.
  • Menggunakan kalimat-kalimat yang ringkas dan mudah disertai dengan menjelaskan makna-makna dari kata-kata yang asing di tengah-tengah penafsiran.
  • Hanya menafsirkan sesuai dengan ayat bersangkutan, dan menghindari penambahan yang ada di ayat lain, agar ditafsirkan di tempatnya masing-masing.
  • Penafsiran dilakukan sesuai dengan riwayat qira’ah Hafsh dari Ashim, dan ini adalah yang dianut di Indonesia dan sebagian besar negeri-negeri Muslim.
  • Tafsir ini disusun oleh satu tim ahli tafsir yang telah diseleksi para ulama yang berwenang di Mujamma’ Raja Fahd untuk penerbitan Al Qur’an. Di bawah pengawasan dan arahan seorang ulama yang mumpuni, Syaikh Dr. Shalih Alu asy-Syaikh yang menjadi pembimbing utama di lembaga tersebut. Penyusunan tafsir ini telah melalui berbagai proses dan langkah yang sangat hati-hati serta pengkajian yang mendalam.

Tafsir Muyassar

  • Allah menurunkan Al Qur’an  kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman”Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192-195). Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam-  menyampaikan al-Qur’an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya, “ Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44]
  • “ Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64]  Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh-  berkata dalam menafsirkan ayat ini “Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah”.
  • Dan telah jelas sekali sesuatu yang menunjukkan bahwasanya para sahabat -Rodliallahu Anhum-  telah menerima dari Rasulullah tafsiran al-Qur’an, di mana seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.
  • Abu Abdurrahman as-Sulami -rahimahulloh- berkata [ia merupakan pembesar Tabi’in], “Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang telah membacakan kepada kami bahwasanya mereka meminta agar dibacakan al-Qur’an oleh Nabi dan bila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan isinya maka kami pun mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya secara keseluruhan.”
  • Dan para sahabat -Rodliallahu Anhum-  itu bila ada suatu kemusykilan/ketidakfahaman yang mereka dapatkan, mereka bertanya kepada Nabi , seperti ketika turun firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  ,
  • “Orang-orang yang  beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.”   (Al-An’am: 82) Maka para sahabat Rasulullah berkata, “Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Beliau bersabda,”Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman ‘maksudnya adalah dengan kesyirikan.” [ Al Bukhari no 3360 dan Muslim 2462]
  • Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orang yang dengan mereka tegak-lah al-Qur’an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur’an berbicara, dan dengannya mereka berkata, orang-orang yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  keilmuan dan hikmah yang meru¬pakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi.
  • Mereka itulah para sahabatnya -Rodliallahu Anhum- , yang dipilih oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  di antara seluruh makhluk agar menemani Nabi-Nya  selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur’an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengannya maka mereka membelanya dan mengamalkannya.
  • Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyidun, Ubay bin. Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair -Rodliallahu Anhum–
  • Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas’ud -Rodliallahu Anhu-  yang berkata tentang dirinya, “Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diri-Nya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang di¬turunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih menge-tahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepa-danya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya.” Dan Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- adalah ahli tafsir al-Qur’an yang telah didoakan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  seraya berkata, “Ya Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir” Ibnu Mas’ud -Rodliallahu Anhu- berkata tentangnya, “Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas .”
  • Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi’in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu-  di Makkah seperti Mujahid, Said bin Jabir dan semisal mereka -rahimahumulloh- . Mujahid berkata, “Saya ajukan sebuah rnushaf kepada Ibnu Abbas  dengan tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan saya menghentikan pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya”. Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata, ‘Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu.” Syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata, “Oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah asy-Syafi’i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya.”
  • Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas’ud  -Rodliallahu Anhu- seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka -rahimahumulloh- , Ibnu Mas’ud  berkata, “Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya.” Dan al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yang membaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya.
  • Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat  dan Tabi’in telah menafsirkan al-Qur’an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur’an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali, bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada di antara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisih¬an yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-  pada “Muqaddimah at-Tafsir”.
  • Kemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat  adapun para Tabi’in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, “Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu’ dan mauquf pada para sahabat  dan maqthu’ dari para Tabi’in.”
  • Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka da¬lam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin al-Husain al-Baghawi yang meninggal pada tahun 516 H, Abu al-Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi yang meninggal pada tahun 596 H, Abu Abdullah Muham¬mad bin Umar ar-Razi yang meninggal pada tahun 606 H, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi yang meninggal pada tahun 671 H, Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 745 H, al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang meninggal pada tahun 774 H, Abdurrahman ats-Tsa’alabi yang meninggal pada tahun 876 H, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi yang meninggal pada tahun 911 H, Muhammad bin Ali asy-Syaukani yang meninggal pada tahun 1250 H, Mahmud Syihabuddin al-Alusi yang meninggal pada tahun 1270 H, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi yang meninggal pada tahun 1332 H, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi yang meninggal pada tahun 1393 H, dan lain sebagainya dari para ulama kaum muslimin yang telah menulis dalam ilmu tafsir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s