September 24, 2021

KLIK QURAN

THE TRUTH WAY OF LIFE

Kafirlah orang yang berkata, “Allah itu Isa atau Yesus”, Tafsir Surat Al-Ma’idah, ayat 17-18

9 min read

Kafirlah orang yang berkata, “Allah itu Isa atau Yesus”, Tafsir Surat Al-Ma’idah, ayat 17-18

Ketika ajaran Trinitas tidak tercantum dalam Injil justru diungkapkan dalam Quran. Dalam Quran terdapat istilah ajaran Trinitas, tetapi ajaran Allah untuk memperingatkan manusia sebagai perintah larangan. Karena Yesus Bukan Tuhan dan Dilarang Untuk Disembah. Allah dalam firmannya dalam Al-Quran memberikan pesan kepada seluruh unmat manusia untuk menolak keyakinan tentang Isa sebagai anak Tuhan. Menurut Al-Quran, Tuhan tidak punya anak (5:17). Tuhan tidak beranak atau diperanakkan (112:3). Tidak punya sekutu (4:48). Al-Quran juga tidak menerima paham tentang kematian Yesus di tiang salib. Yang disalib Yahudi adalah orang lain yang menyerupai Yesus (4:156-59). Yesus sendiri naik ke langit hidup-hidup. Perbedaan keyakinan itu harus dipandang sebagai perbedaan yang harus saling dihormati. Perbedaan itu tidak harus membuat perdebatan dan saling memperolok. Bila manusia berpikir maka akan menerima kebenaran yang diperintahkan Allah secara langsung melalui kitab sucinya yang diturubnkan melalui nabinya tanpa harus dimanipulasi manusia

Tafsir Surat Al-Ma’idah, ayat 17-18

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17) وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (18)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Se­sungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam.” Katakan­lah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang yang berada di bumi kesemuanya? Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bu­mi dan apa yang di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian?” (Ka­lian bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kalian adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang terda­pat di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).
Allah Swt. menceritakan perihal kekufuran orang-orang Nasrani karena mereka mendakwakan terhadap diri Al-Masih ibnu Maryam —yang sebenarnya adalah salah seorang dari hamba-hamba Allah dan salah satu dari makhluk yang diciptakan-Nya— sebagai tuhan. Maha­tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.
Kemudian Allah Swt. memberitahukan perihal kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, bahwa semuanya itu berada di bawah kekuasaan dan pengaruh-Nya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا}

Katakanlah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat mengha­lang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang yang berada di bumi kesemuanya?” (Al-Maidah: 17)

Dengan kata lain, seandainya Allah menghendaki hal tersebut, siapa­kah yang dapat mencegah-Nya dari perbuatan itu, atau siapakah yang mampu memalingkan Allah dari hal tersebut?
Dalam firman selanjut­nya disebutkan:

{وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ}

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang terdapat di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Maidah: 17)
Semua yang ada ini adalah milik Allah dan makhluk-Nya. Dia Maha­kuasa atas apa yang dikehendaki-Nya, tiada yang mempertanyakan apa yang dilakukan-Nya berkat kekuasaan, pengaruh, keadilan, dan kebesaran-Nya. Makna ayat ini mengandung bantahan terhadap orang­-orang Nasrani, semoga laknat Allah yang berturut-turut sampai hari kiamat menimpa mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman, memban­tah kedustaan dan kebohongan yang dibuat oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dalam pengakuannya, yaitu:

{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ}

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Al-Majdah: 18)

BACA:   Ayat Pilihan Ramadhan dan Tafsir Al Baqarah 200-201: Doa Terdahsyat Dalam Quran
Maksudnya, kami adalah keturunan para nabi-Nya, sedangkan mereka adalah anak-anak-Nya. Dia memperhatikan mereka, karena itu Dia mencintai kami. Telah dinukil pula dari kitab mereka bahwa Allah Swt. berfirman kepada hamba-Nya Israil (Nabi Ya’qub), “Kamu ada­lah anak pertama-Ku (yakni kesayangan-Ku).” Lalu mereka menakwilkan kalimat ini dengan pengertian yang tidak sebenarnya dan me­reka mengubahnya. Mereka dibantah oleh bukan hanya seorang dari kalangan orang-orang pandai mereka yang telah masuk Islam, bahwa kalimat ini diucapkan di kalangan mereka untuk menunjukkan makna menghormat dan memuliakan (bukan seperti yang tertulis). Sama hal­nya dengan apa yang telah dinukil dari kitab orang-orang Nasrani, bahwa Isa berkata kepada mereka.”Sesungguhnya aku akan pergi menemui Ayahku dan Ayah kalian.” Makna yang dimaksud ialah per­gi untuk menemui Tuhanku dan Tuhan kalian.
Tetapi kita maklumi semua bahwa orang-orang Yahudi itu tidak­lah mendakwakan buat diri mereka status anak seperti yang didakwa­kan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa a.s. Sesungguhnya yang me­reka maksudkan dengan kata-kata tersebut hanyalah kehormatan dan kedudukan mereka di sisi-Nya. Karena itu, mereka mengatakan, “Ka­mi adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”
Firman Allah Swt. membantah mereka:

{قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ}

Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kalian karena do­sa-dosa kalian?” (Al-Maidah: 18)
Dengan kata lain, seandainya kalian seperti apa yang kalian dakwakan itu, yakni kalian adalah anak-anak-Nya dan kekasih-kekasih-Nya, mengapa Dia menyiapkan neraka Jahannam buat kalian atas kekufur­an kalian dan kedustaan serta kebohongan kalian?
Salah seorang guru tasawwuf pernah mengajukan pertanyaan ke­pada seorang ulama fiqih, “Di manakah kamu jumpai di dalam Al-Qur’an bahwa seorang kekasih tidak akan menyiksa orang yang dika­sihinya?” Ulama fiqih diam, tidak dapat menjawab. Akhirnya guru ta­sawwuf itu membacakan kepadanya firman Allah Swt.: Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kalian karena do­sa-dosa kalian?” (Al-Maidah: 18)
Apa yang dikatakan oleh guru tasawwuf ini cukup baik. Apa yang di­katakannya itu mempunyai syahid yang menguatkannya, yaitu di da­lam kitab Musnad Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ حُمَيْد، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، وَصَبِيٍّ فِي الطَّرِيقِ، فَلَمَّا رَأَتْ أُمُّهُ الْقَوْمَ خَشِيَتْ عَلَى وَلَدِهَا أَنْ يُوْطَأ، فَأَقْبَلَتْ تَسْعَى وَتَقُولُ: ابْنَيِ ابْنِي! وَسَعَتْ فَأَخَذَتْهُ، فَقَالَ الْقَوْمُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كَانَتْ هَذِهِ لِتُلْقِيَ ابْنَهَا فِي النَّارِ. قَالَ: فَخفَّضَهُم النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “لَا وَاللَّهِ مَا يُلْقِي حَبِيبَهُ فِي النَّارِ”

Disebutkan bahwa telah mencerita­kan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Humaid, dari Anas yang men­ceritakan bahwa pada suatu hari Nabi Saw. lewat bersama sejumlah sahabatnya, sedangkan saat itu ada anak kecil berada di tengah jalan. Ketika ibu si anak melihat kaum datang (yakni Nabi Saw. dan para sahabatnya), maka si ibu merasa khawatir anaknya akan terinjak oleh kaum. Maka ia lari dan berkata, “Anakku, anakku,” lalu ia mengam­bil anaknya. Maka kaum bertanya, “Wahai Rasulullah, ibu ini tidak akan mencampakkan anaknya ke dalam neraka.” Maka Nabi Saw. menahan mereka, lalu bersabda: Tidak, demi Allah, Dia tidak akan mencampakkan kekasih-Nya ke dalam neraka.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

*****

{بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ}

Kalian bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), te­tapi kalian adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. (Al-Maidah: 18)
Dengan kata lain, kalian sama saja dengan anak Adam lainnya; dan Dialah Yang memberikan kcputusan atas semua hamba-Nya.

{يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ}

Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Maidah: 18)
Yakni Dia Maha Mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya, tiada aki­bat bagi keputusan-Nya, dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya.

{وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا}

Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya. (Al-Maidah: 18)
Semuanya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan dan pengaruh-Nya.

{وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ}

Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al-Maidah: 18)
Artinya, mereka semuanya akan kembali kepada-Nya dan Dia akan memberikan keputusan hukum terhadap hamba-hamba-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya, dan Dia Mahaadil yang selamanya tidak zalim.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah kedatangan Nu’-man ibnu Asa. Bahr ibnu Amr, dan Syas ibnu Addi. Lalu mereka ber­bicara kepadanya dan Rasulullah Saw. berbicara kepada mereka, me­nyeru mereka kepada Allah dan memperingatkan mereka akan pembalasan-Nya. Mereka mengatakan, “Kamu sama sekali tidak dapat membuat kami takut, hai Muhammad, karena kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya,” sama halnya dengan perkataan orang-orang Nasrani. Allah menurunkan ayat berikut berkenaan de­ngan ucapan mereka itu, yakni firman-Nya: Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Al-Maidah: 18), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Imam Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.
Keduanya telah meriwayatkan pula melalui jalur Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan firman Allah Swt.: Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Al-Maidah: 18); Mengenai perkataan mereka, “Kami adalah anak-anak Allah,” sesung­guhnya mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada Israil (yakni Nabi Ya’qub), ‘Engkau adalah anak pertama-Ku (kekasihku)’.” Maka Allah memasukkan orang-orang Yahudi ke da­lam neraka, dan mereka tinggal di dalam neraka selama empat puluh hari untuk dibersihkan dan dihapuskan semua dosanya. Kemudian ada suara yang menyerukan, “Keluarkanlah dari neraka semua orang yang disunat dari kalangan anak-anak Israil!” Lalu mereka dikeluarkan dari neraka. Yang demikian itulah perkataan mereka, “Kami tidak akan di­masukkan ke dalam neraka kecuali hanya beberapa hari yang berbi­lang.”

Yesus atau Isa Menurut Quran dan Islam

  • Di dalam Al-Quran, Isa atau Yesus dipandang sebagai hamba Allah (abdullah), nabi, dan rasul. Tuhan mengajarinya Taurat, memberinya Injil (3:48), dan membantunya dengan Roh Kudus (2:87). Yesus adalah ‘kata’ atau kalimah dari Tuhan, yang dihormati di dunia ini dan di akhirat (3:45). Yesus diciptakan dari debu seperti halnya Adam (3:59). Serupa nabi lain, nama Yesus disebut bersama frase alaihis salam (A.S.), semoga damai menyertainya.
  • Al-Quran menyebut beberapa mukjizat Isa A.S. Ia dapat menyembuhkan orang buta dan yang sakit kusta, dan membangkitkan orang yang sudah mati menjadi hidup kembali. Begitu pula, Yesus dapat menciptakan burung dari tanah lempung. Ketika para pengikutnya meminta, Nabi Isa dapat menghadirkan meja yang penuh hidangan. Mukjizat lain yang disebut Al-Quran adalah kemampuannya mengetahui apa yang dimakan orang dan apa yang mereka simpan di rumah mereka (3:49). Berbagai mukjizat ini bukan bukti ketuhanan Yesus, melainkan bukti nyata kerasulannya.
  • Isa lahir dari perawan Maryam. Maryam ialah perempuan paling menonjol di dalam Al-Quran. Ia disebut dengan nama pribadinya. Selain itu, ada Surah yang menggunakan namanya. Surah Maryam adalah satu-satunya Surah yang menggunakan nama perempuan. Al-Quran berkali-kali menggambarkan Maryam sebagai perempuan baik-baik yang saleh dan beriman. Pada saat yang sama, Al-Quran menekankan Maryam dan anak satu-satunya adalah ciptaan Tuhan.
  • Surat Maryam menceritakan dengan cukup rinci tentang kehamilannya sebagai perawan (19:16-34). Jibril atau Ruh dari Tuhan datang ke Maryam dalam bentuk laki-laki. Jibril mengatakan ia diutus Tuhan menyampaikan bahwa Maryam akan mendapat anugerah berupa anak laki-laki yang suci. Maryam bertanya bagaimana mungkin dia hamil tanpa disentuh laki-laki. Tapi Jibril mengatakan, bagi Tuhan itu perkara mudah. Maka Maryam mengandung. Ia mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ketika persalinan mendekat, ia merasa sakit sekali sehingga merasa lebih baik ‘mati dan dilupakan’. Jibril menghiburnya, dan memintanya supaya tetap makan kurma dan minum dari air yang mengalir di dekatnya.
  • Maryam melahirkan Yesus tanpa bantuan siapa-siapa. Ketika ia kembali ke komunitasnya, Maryam dituduh macam-macam dan tidak bersedia menjawabnya. Dengan mukjizatnya, Bayi Yesus sendiri yang memberikan jawaban. Dia adalah hamba Allah, yang mendapatkan Alkitab, yang menjadi nabi, yang diberkati di mana-mana, yang melakukan salat, membayar zakat, berbakti pada ibu, dan tidak arogan. Itulah Isa putra Maryam, menjadi representasi ajaran Islam.
BACA:   Benarkah Yesus atau Nabi Isa itu Tuhan ?
loading...

Материалы по теме:

Aqidah, Kepercayaan dan Keyakinan Dalam Islam
  Aqidah, Kepercayaan dan Keyakinan Dalam Islam Akidah dalam istilah Islam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah. Pondasi akidah Islam didasarkan pada hadits ...
Doa Dalam Al Quran: Doa Sapu Jagad
  Doa Dalam Al Quran: Doa Sapu Jagad رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ Robbana a'tina fid'dun yaa hasanah, wafil a' khirotil ...
Kristologi : Kisah Mengharukan Masuk Islam Stelah Berdebat Dengan Ustadz Munzir Situmorang
https://youtu.be/QTEMQIORwxo
Taddabur Quran: Surat Al Baqarah 1-5
Surat Al-Baqarah بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ الۤمّۤ ۚalif lām mīmAlif Lam Mim. ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙżālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal ...
Quran Digital: Tafsir An Nur 31, Hendaklah Menahan Pandangan, Pelihara Kemaluannya, dan Janganlah Tampakkan Perhiasannya
An-Nur ayat 31 {وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.